Meysa tersenyum canggung, melirik Wildan yang tetap datar. "Iya, alhamdulillah betah, Vin. Lagi fokus nyelesaiin naskah. Tumben kamu telepon pagi-pagi begini, ada apa?""Habis aku penasaran banget! Padahal tadi aku sudah chat dan tag kamu berkali-kali di grup dan di jalur pribadi, tapi kayaknya karena ketumpuk atau kamu lagi asyik 'revisi' makanya nggak kamu baca, ya?" goda Vina dengan nada jenaka.Meysa berdehem, berusaha menormalkan suaranya. "Maaf ya, Vin. Memang ketumpuk banget. Sinyal di sini juga naik turun, jadi aku belum sempat baca pesan masuk.""Oalah, pantesan. Jadi ... kamu kayaknya juga belum baca apa yang lagi rame banget di grup penulis PenaKata sekarang, ya?" nada suara Vina mendadak berubah sedikit lebih serius, meski masih ada sisa-sisa rasa penasaran.Kening Meysa berkerut dalam. Perasaan tidak enak yang tadi sempat ditenangkan oleh Wildan kini kembali menyeruak. Ia menoleh ke arah Wildan lagi. Kebetulan, Wildan juga sedang menoleh ke arahnya sebentar, menatapnya de
Last Updated : 2026-01-18 Read more