Malam ini hujan turun dengan deras. Di sebuah bar kecil yang sepi, Langit duduk menatap gelasnya ketika kursi di sebelahnya ditarik. Tanpa menoleh, ia sudah tahu siapa yang datang.Keenan Wijaya duduk di sana, ia terlihat jauh dari sosok pewaris, justru tampak seperti brandalan mahal karena aura elegannya sangat kental.Langit berkata dingin, “Tidak usah berbelit-belit.”Kepalan tangan Keenan lebih kuat dari sebelumnya, saat menghadapi Anggara. Suaranya dipenuhi perasaan keberatan. “Ada hal yang tidak bisa saya lakukan, tapi kamu bisa.”Langit tersenyum sinis. “Tidak usah berteka-teki.” Dia menegak minuman dalam gelas kecil. Itu minuman beralkohol rendah.“Ini tentang Dhara.” Tatapan Keenan sangat tajam, dipenuhi aura permusuhan.“Kenapa tidak urus sendiri!” Suara dingin Langit sangat mendominasi.“Jujur saja, sebenarnya saya tidak mau melibatkan kamu, laki-laki yang selalu mencintainya, tapi tidak pernah dibalas.” Senyuman mengejek itu sangat sarkasme.Langit mendengus. “Cuma buang-b
Last Updated : 2025-12-21 Read more