Buk!Dhara mengusap jidatnya, sedangkan sebelah alis Langit terangkat heran. “Saya kurang tinggi, ya?” Ia terkekeh kegelian karena si gadis menaberak dadanya.Dhara merajuk, memerotes, “Langit ... ngomong dong biar saya tahu kamu di sini ....”“Dari tadi saya berdiri di sini, loh. Tapi kamu nunduk terus.” Sebelah alisnya masih terangkat heran.“Iya, maaf,” celetuk Dhara. Ia hendak melewati Langit dari samping kiri, tetapi desain undangan terlepas dari genggaman kecilnya.Kini, dua pasang mata menatap kertas yang tidak biasa, isinya sudah terbuka. Keenan Wijaya Saputra dan Dhara Eleena!Deg!Sejenak, Langit kehilangan pasokan udara di paru-parunya beriringan dengan jantungnya yang seolah hendak meledak.Dengan cekatan, Dhara meraih kertas undangan lalu disembunyikan di punggung. Senyuman lebar diarahkan pada Langit. “Ini bukan apa-apa. Jangan kamu pedulikan!” katanya memburu dengan panik.Dhara melengos seiring menggeser kartu undangan dalam dekapannya, sedangkan Langit membatu. Ia ber
Last Updated : 2025-12-13 Read more