Cahaya pagi merambat naik dari ufuk timur, menembus kaca tebal koridor rumah sakit VVIP itu. Keinan terbangun dengan leher yang kaku dan punggung yang mati rasa. Dia tidur dengan posisi duduk melipat tangan di dada, di atas kursi besi ruang tunggu yang dingin. Kemejanya kusut masai, rambutnya berantakan, dan rahangnya mulai ditumbuhi bayangan cambang halus. Penampilannya sangat jauh dari citra Keinan Wijaya sang CEO perfeksionis.Pintu kamar Aisyah terbuka perlahan. Bu Nur keluar dengan membawa teko kosong, berniat mencari dispenser air panas. Langkah wanita paruh baya itu terhenti saat melihat menantunya tertidur di kursi koridor, menggigil kedinginan karena AC sentral rumah sakit."Astaghfirullah, Nak Keinan?" panggil Bu Nur pelan, menepuk bahu Keinan.Keinan langsung tersentak bangun, matanya merah karena kurang tidur. "Ya, Bu? Aisyah kenapa? Ada yang sakit lagi?" tanyanya panik, setengah berdiri."Eh, tidak, tidak. Aisyah masih tidur pulas efek obat," Bu Nur buru-buru menenangkan.
Read more