Share

Part 22

Author: ATM Berjalan
last update publish date: 2026-05-14 12:34:26

Cahaya pagi merambat naik dari ufuk timur, menembus kaca tebal koridor rumah sakit VVIP itu. Keinan terbangun dengan leher yang kaku dan punggung yang mati rasa. Dia tidur dengan posisi duduk melipat tangan di dada, di atas kursi besi ruang tunggu yang dingin. Kemejanya kusut masai, rambutnya berantakan, dan rahangnya mulai ditumbuhi bayangan cambang halus. Penampilannya sangat jauh dari citra Keinan Wijaya sang CEO perfeksionis.

Pintu kamar Aisyah terbuka perlahan. Bu Nur keluar dengan membawa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 22

    Cahaya pagi merambat naik dari ufuk timur, menembus kaca tebal koridor rumah sakit VVIP itu. Keinan terbangun dengan leher yang kaku dan punggung yang mati rasa. Dia tidur dengan posisi duduk melipat tangan di dada, di atas kursi besi ruang tunggu yang dingin. Kemejanya kusut masai, rambutnya berantakan, dan rahangnya mulai ditumbuhi bayangan cambang halus. Penampilannya sangat jauh dari citra Keinan Wijaya sang CEO perfeksionis.Pintu kamar Aisyah terbuka perlahan. Bu Nur keluar dengan membawa teko kosong, berniat mencari dispenser air panas. Langkah wanita paruh baya itu terhenti saat melihat menantunya tertidur di kursi koridor, menggigil kedinginan karena AC sentral rumah sakit."Astaghfirullah, Nak Keinan?" panggil Bu Nur pelan, menepuk bahu Keinan.Keinan langsung tersentak bangun, matanya merah karena kurang tidur. "Ya, Bu? Aisyah kenapa? Ada yang sakit lagi?" tanyanya panik, setengah berdiri."Eh, tidak, tidak. Aisyah masih tidur pulas efek obat," Bu Nur buru-buru menenangkan.

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 21

    Lampu neon putih di lorong Unit Gawat Darurat (UGD) berkedip-kedip, menciptakan suasana yang mencekam di tengah keheningan malam yang hanya dipecah oleh suara sirene ambulans yang sesekali terdengar dari kejauhan. Keinan duduk di kursi plastik keras di depan ruang tindakan, kepalanya tertunduk dalam, kedua telapak tangannya menutupi wajah.Pakaiannya masih berantakan. Kaos oblong putihnya terkena noda muntahan Aisyah, dan kakinya hanya beralaskan sandal rumah yang berbeda warna karena keterburu-buruan tadi. Namun, dia tidak peduli. Harga dirinya sebagai CEO yang selalu tampil sempurna luruh seketika, berganti dengan ketakutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.*“Dokter, tolong dia! Berikan yang terbaik!”*Teriakannya di depan pintu UGD tadi masih terngiang. Dia ingat bagaimana para perawat dengan cekatan memindahkan tubuh mungil Aisyah ke atas brankar, memasang masker oksigen, dan mendorongnya masuk ke balik tirai hijau yang memisahkan kehidupan dan ketidakpastian."Pak Keinan?

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 20

    Ban mobil Toyota Alphard itu berdecit nyaring, menciptakan gema memekakkan telinga saat bergesekan kasar dengan lantai beton basement apartemen. Keinan menghentikan mobilnya dengan manuver yang nyaris sembrono, membuat tubuh Aisyah terhuyung ke depan meski sabuk pengaman menahannya. Napas Aisyah memburu. Wajahnya pucat pasi di balik cadar yang kini sedikit miring. Sepanjang perjalanan dari hotel menuju apartemen, Keinan mengemudi seperti orang kerasukan setan. Dia meliuk-liuk di antara kendaraan lain, menekan klakson tanpa henti, dan mengabaikan setiap lampu kuning yang berubah merah. "Turun," perintah Keinan dingin. Tangannya masih mencengkeram setir erat, matanya menatap lurus ke dinding beton di depan. Aisyah tidak membantah. Tangannya yang gemetar membuka sabuk pengaman, lalu membuka pintu mobil. Kakinya terasa goyah saat memijak lantai. Gaun mewah emerald green yang dipaksa Keinan untuk dia kenakan kini terasa seperti kostum badut yang mengejek nasibnya. Mereka naik ke pentho

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 19

    Minggu siang itu berlalu dengan kecanggung yang menyelimuti setiap sudut penthouse mewah Keinan. Hujan sisa badai kemarin sudah berhenti total, digantikan oleh langit Jakarta yang abu-abu dan lembap. Di dalam apartemen, suhu pendingin ruangan disetel lebih hangat dari biasanya atas inisiatif Aisyah, mengingat sang pemilik rumah baru saja sembuh dari demam tinggi. Aisyah keluar dari kamarnya setelah menunaikan sholat Dzuhur. Dia mengenakan gamis rumah berbahan katun yang nyaman berwarna hijau sage, lengkap dengan jilbab instan yang menutupi dada. Dia berniat mengecek kondisi Keinan, namun langkahnya terhenti di ambang ruang tengah. Aroma gurih yang menggugah selera memenuhi udara. Di meja makan, sudah tersaji beberapa kotak makanan takeaway dari restoran Chinese food halal langganan kantor. Keinan sudah duduk di sana, sudah mandi dan terlihat segar meski wajahnya masih sedikit pucat. Dia mengenakan kaos polos putih dan celana training abu-abu, tampilan santai yang jarang sekali Aisy

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 18

    Malam semakin larut di apartemen mewah itu. Hujan di luar sudah reda, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Jam dinding digital menunjukkan pukul sebelas malam. Aisyah terbangun karena rasa haus yang mendera. Dia keluar dari kamarnya dengan langkah pelan, mengenakan piyama panjang longgar dan jilbab instan rumahannya. Suasana apartemen gelap, hanya lampu temaram di lorong yang menyala. Saat melewati ruang tengah menuju dapur, langkah Aisyah terhenti. Dia mendengar suara erangan tertahan dari arah sofa panjang di depan televisi. Aisyah menyipitkan mata. Di sana, Keinan terbaring meringkuk dengan posisi yang tidak nyaman. Laptopnya menyala menampilkan screensaver, tergeletak miring di karpet seolah jatuh dari pangkuan. "Tuan?" panggil Aisyah ragu. Tidak ada jawaban, hanya suara gigilan napas yang terdengar berat. Aisyah mendekat perlahan. Hatinya berperang antara rasa peduli dan rasa enggan. Namun, sisi kemanusiaannya menang. Dia menyalakan lampu meja kecil di samping sofa.

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 17

    Mobil Alphard hitam itu melaju kencang meninggalkan gerbang megah kediaman keluarga Wijaya. Di balik kemudi, Keinan mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih. Keheningan di dalam kabin terasa begitu mencekam, lebih dingin daripada AC yang menyembur di angka terendah. Aisyah duduk di kursi penumpang depan, memeluk tasnya erat-erat. Tubuhnya masih gemetar sisa dari sarapan neraka tadi. Kata-kata Bryan di meja makan masih terngiang jelas, berputar-putar di kepalanya seperti rekaman rusak yang menyakitkan. "Mantan gue itu barang rusak... Jijik banget kan? Untung ketahuan sebelum akad..." Aisyah memejamkan mata di balik cadarnya. Air mata panas kembali meleleh. Dia ada di sana. Dia duduk tepat di depan Bryan. Dan pria itu dengan entengnya menceritakan aibnya sebagai lelucon pagi, tanpa tahu bahwa objek penderitaannya sedang mendengarkan setiap katanya. "Aisyah..." suara Keinan memecah keheningan. "Maaf." Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari mulut Keinan. Dia merasa gag

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 13

    Jarum jam di dinding ruang rapat utama Wijaya Tower seolah bergerak dalam gerak lambat yang menyiksa, namun setiap detiknya menghantam mental Aisyah. Pukul sembilan lewat empat puluh lima menit.Suasana di dalam ruangan berpendingin udara itu panas, sepanas lahar gunung berapi yang siap meletus."M

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 12

    uasana di ruangan Direktur Utama lantai 30 Wijaya Tower terasa jauh lebih dingin daripada suhu AC sentral yang disetel di angka 18 derajat. Sejak insiden di apartemen tadi pagi, ciuman panas di depan pintu dan penghinaan halus Agnes. Aisyah dan Keinan belum saling bicara satu patah kata pun selain

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 11

    Napas Keinan masih memburu ketika pintu penthouse itu terbuka lebar di hadapannya. Pemandangan pertama yang menyambutnya adalah punggung tegap Oma Larasati yang duduk di sofa single berwarna hitam, memancarkan aura intimidasi yang membuat suhu ruangan terasa turun drastis hingga titik beku. Di sud

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 9

    Matahari pagi menyelinap malu-malu di antara celah ventilasi rumah sederhana di pinggiran Jakarta itu. Namun, suasana di dalam rumah Bu Nur sudah riuh rendah sejak subuh. Aroma melati yang dicampur dengan wangi masakan khas hajatan, opor ayam dan rendang menguar memenuhi udara, bercampur dengan gel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status