Masih pagi. Penghuni apartemen juga belum banyak yang lewat. Reyhan sudah rapi memakai jas dengan aroma parfum maskulin yang wangi tercium, bercampur dengan harum kopi yang pagi tadi dibuatkan Nilna.Nilna mendekat. "Kok pagi sekali kamu berangkat, Mas? "Sambil membenarkan tali sepatunya, Reyhan yang duduk sambil menyeruput kopinya, bicara. "Ada janji sama seseorang, menjemputnya di hotel. Sekalian ngajak sarapan pagi.""Sama yang tadi malam Mas bahas sama Mas Renji itu, ya?"Reyhan mengeryit. "Yang mana? "Nilna tersenyum. " Itu, yang katanya dijodohkan sama Mami Mas Reyhan."Reyhan terkekeh. "Kamu kok menduga begitu? Kamu ngintip orang bicara, ya?"Nilna jadi tak enak hati. " Enggak ngintip, sih. Cuma dengar aja pas kalian ngobrol.""Itu sama aja dengan ngintip, Nilna."" He, he, he... iya." Nilna menggaruk tengkuknya menunduk sambil menyimpan senyum. Namun, saat ia mendongak, ia sudah mendapati Reyhan menatapnya, lalu tiba-tiba pura-pura kembali membenarkan tali sepatunya yang su
Ler mais