"Kamu kenapa jalan kaki?" tanya Reyhan.Nilna menelan ludah. "Bentor nggak lewat."Reyhan menghentikan mobilnya lalu turun. "Seharusnya kamu nggak pergi, aku lihat tadi jalanmu pincang. Kamu kenapa?""Jatuh, Mas," jawab Nilna cepat. Terlalu cepat, seolah takut kebohongannya terbongkar. "Soalmya kamar mandi licin."Raihan menatapnya, ragu. "Kulihat muka kamu juga pucat. Kamu sakit?""Aku nggak apa-apa, Mas.""Ayo, masuk," kata Reyhan sambil membuka pintu. "Aku antar. Kamu sepertinya nggak kuat jalan jauh."Nilna ragu, menoleh ke belakang, ke arah rumah Renji, saat ia melihat lenggang, ia menurut. Namun, saat duduk, nyeri itu kembali menusuk, membuat wajahnya meringis menahan sakit."Kamu yakin cuma jatuh?" tanya Reyhan melirik. "Kalau jatuh biasa, bukan seperti itu pas kamu duduk.""Itu, sepertinya di ..." jawab Nilna bingung, lalu menunduk. Ia tak mungkin berkata jujur. Tak mungkin membuka aib yang bahkan ia sendiri sulit terima.Reyhan sedikit tersenyum. "Nggak usah dijelaskan, seper
آخر تحديث : 2026-02-10 اقرأ المزيد