Sore itu, seperti biasanya, Nilna pergi kerja.Namun, baru saja kakinya melangkah keluar dari kamar yang selama ini ia tempati, sosok Keysha sudah berdiri di hadapannya. Tegak, rapi, dan dengan tatapan yang selalu membawa kata merendahkan. Nilna tahu, pertemuan mereka jarang sekali berakhir dengan ketenangan."Enak, ya, kamu kerja digaji di sini, bisa nyabang kerja di tempat lain."Perkataan Keysha meluncur tajam, seolah sudah lama menunggu kesempatan untuk menusuk. Nada suaranya mengandung cemooh yang tak lagi disembunyikan. Setiap kalimatnya seperti ingin menegaskan satu hal: bahwa Nilna hanyalah seseorang yang menumpang hidup, tak lebih."Jaga ucapanmu, Keysha. Kalau dari dulu aku dapat gaji pasti sebagai pembantu si sini, aku nggak akan pergi cari uang kemana-mana."Nilna membalas dengan suara yang ia paksakan tetap tenang. Ia sudah terlalu sering belajar menahan diri, meski dadanya sesak. Ia tahu, jika ia terpancing, semuanya hanya akan semakin rumit. Tapi hari itu, mungkin karen
آخر تحديث : 2026-02-18 اقرأ المزيد