Nilna diam menunduk. Matanya menyapu warung Bu Maryam yang terletak di perumahan tipe 36. Di sebelahnya ada tanah kosong yang ia beri kanopi dan dijadikan warung sederhana. Rina mengajaknya duduk. "Bu, es teh lagi satu,ya." Nu Maryam segera menyapa. "E, ada Mbak Nilna, ya? Siap, Mbak. Tapi tunggu dulu, ini masih ngulek rujak, " ucap Bu Maryam sambil memperdengarkan kekehannya. " Makanya cari pegawai, Bu. Soalnya warung Ibu makin ramai, "celetukan berasal dari segerombolan anak muda. "Emang ada yang mau digaji pas pasan?" "Iya, juga, ya, Bu, " ucap yang satunya. Rina masih menatap Nilna. "Nil, kamu kenapa? Jangan diam saja, bilang sama aku kalau ada masalah. Kita 'kan sudah sahabatan." Rina duduk tepat di hadapan Nilna. Suaranya diturunkan, tapi matanya tak bisa menyembunyikan cemas. "Enggak apa-apa," jawab Nilna cepat. Bibirnya tersenyum tipis, terlalu tipis sampai terlihat rapuh. "Cuma suntuk." Rina mendengus pelan. "Suntuk itu biasanya ada alasannya. Kalau
Ler mais