Beriringan tiga orang dewasa itu berjalan melintasi hamparan rumput di halaman yang cukup panjang hingga sampai ke pintu utama rumah Sarah.“Tolong siapkan sarapan kita bersama ya, Bi. Saya urus Putri dulu,” kata Sarah sambil mengambil Putri yang mulai membuka mata bulatnya.“Antar dulu Dokter Wan ke ruang tamu,” tambahnya sebelum beranjak ke dalam.Namun telinganya masih menangkap jawaban Wira.“Tak perlu, Bi. Lanjut saja. Saya mau lihat-lihat.”Sarah menoleh sekilas, tetapi tidak berkata apa-apa.Bibi hanya tersenyum kecil.“Silakan, Dokter. Anggap saja rumah sendiri.”Wira mengangguk sopan.Begitu Sarah menghilang ke dalam rumah, pandangannya mulai berkeliling.Rumah itu jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.Bukan rumah yang memamerkan kemewahan.Melainkan rumah yang terasa dipikirkan dengan sangat matang.Di sisi kanan terdapat taman kecil dengan beberapa tanaman buah yang mulai berbuah. Di sisi kiri berjajar bunga-bunga yang terawat rapi. Terasnya lebar, cukup untuk duduk m
Ler mais