“Hah? Es cream?” tanya Pak Herman menoleh.“Iya. Tubuhku sudah tidak kuat, kakek.”Selena menggelengkan kepalanya melihat bagaimana drama putrinya ini. Dalam sekejap dia bisa memainkan beberapa perannya.Bahkan, sepertinya sekarang Haisa lupa kalau dia baru saja menangis karena pensilnya patah. Sekarang, dia sudah tidak lagi peduli dengan pensilnya. Malah sibuk membujuk kakeknya minta es cream.“Kamu gak kuat kenapa? Haisa sakit?” tanya Bu Wati pura-pura tidak tahu dengan akal Haisa.“Panas, nek. Aku sudah tidak tahan lagi, dan harus segera makan es cream. Kalau tidak, tubuhku rasanya terbakar.”“Es cream dimana?” tanya Pak Herman kemudian.“Di depan aja gapapa, kek.”Akhirnya, Pak Herman kalah dengan bujukan dan rayuan Haisa. “Yaudah, ayo kita ke depan. Tapi, adik Aksa ikut ya.”“Iya, kakek.”“Kamu ganti baju dulu, Sayang,” ujar Selena mengingatkan Haisa, sebab saat ini Haisa masih mengenakan seragam sekolahnya.“Nanti saja, Mama.”Haisa menolak, dia sudah tidak sabar untuk pergi mem
Última atualização : 2026-08-21 Ler mais