“Selamat datang pa komandan,” sambut Koh Acin ramah dengan suara cadelnya, seolah kemarahan istrinya tadi sudah biasa baginya, padahal istrinya masih muda dan cantik.Melihat sepintas saja, Satria sudah paham, ni orang selain licik dan licin, juga tak bisa lihat wanita cantik, tak aneh bininya marah-marah.Koh Acin pun jelaskan secara singkat bisnisnya, yang bagi Satria sudah paham, ujung-ujungnya minta pengamanan padanya.“Jadi begini pa komandan Satlia, si David udah ngomong, motol pak komandan kan jadul, nah owe akan bantu mobil yaah, bial pa komandan nyaman jalan-jalan, juga ada dehh uang jalannya, gimana pa komandan akulll?” cetus si engkoh Acin ini tanpa basa-basi lagi. “Hmm…kamu mau ngasih aku berapa?” tembak Satria tanpa tedeng aling-aling.“Wah pa komandan Satlia ini benal-benal pengeltian, gini aku kasih mobil sama kayak milik si David, di tambah uang 250 juta, gimana, cocok?” kata si Koh Acin lagi.“Hmm…mobil, okelah, tapi masa kamu kasih aku 250 juta. Aku tahu bisnis ilega
Terakhir Diperbarui : 2026-01-18 Baca selengkapnya