“Tuan…!” tegur wanita cantik ini lagi, hingga Satria tersadar dan buru-buru duduk di bangku di ruangan ini, yang tidak memiliki kamar, tempat ini merangkap ruang tamu dan dapur, juga tempat tidur.Wanita ini membuatkan minunan, teh khas Lebanon, lalu sodorkan ke Satria, dia kemudian duduk di bangku yang ada di depan Satria.“Tuan Satria, terima kasih sudah menolong aku dulu, tuan ternyata seorang serdadu dari Indonesia, namaku Yara Salma,” kata si wanita ini tetap dengan suara lembut.“Sama-sama Yara…bagaimana kondisi luka bekas proyektil peluru, apakah masih sakit?” tanya Satria sambil memandang perut Yara yang tertutup baju kurungnya.“Masih…tapi tinggal nunggu sembuh, memang lukanya sempat infeksi, sebab lambat di bawa ke rumah sakit,” sahut Yara Salma, sambil bilang dirinya hampir tewas terkena rudal pasukan agresor dan beruntungnya Karim yang seumuran dengan Salman Dewantara anak sulungnya tak apa-apa, tapi suami dan 3 iparnya turut tewas.“Ini rumah siapa, apakah kalian nyewa?” t
Read more