Aku memaki keras kebodohan Claudia yang bergerak sendiri di tengah situasi perang mematikan. Demi mencegah terjadinya tragedi penculikan kedua kalinya, Bang Tigor segera kutarik paksa.Sebuah mobil van sewaan dipacu maksimal membelah kemacetan jam pulang kerja. Laju roda beringas kami mengarah lurus menuju pusat perbelanjaan tempat pertemuan berbahaya itu berlangsung.Menjelang waktu magrib, suasana lobi mal terlihat sangat padat dipenuhi pengunjung akhir pekan. Duduk menyilang kaki di area luar ruangan kafe, Claudia memesan segelas minuman dingin.Kacamata hitam berbingkai besar sengaja digunakan untuk menyamarkan raut wajah tegangnya. Dari lantai dua bangunan, sepasang mata tajam milik Bang Tigor sudah mengawasi posisi wanita ceroboh itu secara seksama."Posisi Nona Claudia aman terpantau di bawah, Bos," lapor Bang Tigor dari alat komunikasi nirkabelku."Jangan lepas pandangan sedetik pun, Bang." Aku bersiaga memantau dari balik pilar beton raksasa.Target sosialita yang ditunggu ak
Read more