Hening sesaat menyelimuti kami berdua.Tiba-tiba, bunyi notifikasi singkat memecah kesunyian tersebut. Sebuah dokumen elektronik masuk ke sistem memuat titik koordinat geografis lokasi pelelangan bawah tanah tersebut.Kursor mouse langsung kuarahkan untuk membuka file misterius itu dengan cepat."Kamu beneran mau nurutin maunya orang gila itu, Raf?" tanya Shella dengan suara bergetar di belakangku."Aku harus ngecek lokasinya dulu."Pintasan pada keyboard kutekan tanpa keraguan. Hanya dalam hitungan detik, aku mencetak dokumen koordinat tersebut menggunakan mesin pencetak kertas warna di atas meja kerjaku."Ini jebakan, Rafli! Jangan bodoh deh!" larang Shella seraya menahan lengan kananku erat-erat. "Kamu nggak bisa mendatangi lokasi sarang musuh berbahaya itu sendirian!""Aku emang harus datang ke sana, Shell. Ini kesempatan emas buat nyerang langsung ke pusat komandonya.""Tapi di sana pasti isinya pembunuh bayaran semua! Kalau kamu nekat pergi, seenggaknya kamu harus bawa pasukan p
Read more