Bunyi tuas kokang yang kutarik barusan membuat seseorang di kursi belakang tersentak kaget. Claudia masih meringkuk di sana, memeluk kedua lututnya dengan mata sembap yang menatap kosong ke arah jendela.Sejak meninggalkan pabrik es balok, gadis itu belum mengucapkan sepatah kata pun. Sesekali, rintihan lemah si preman tawanan yang terikat di bagasi belakang membuat bahunya bergidik ngeri.“Bang, kita nggak mungkin bawa Claudia sama tawanan itu ke pelabuhan,” ucapku sambil menoleh ke arah Bang Tigor.“Udah saya atur, Bos. Anak buah saya nunggu di rest area kilometer tiga puluh lima. Non Claudia biar dibawa balik ke kontrakan, tawanannya kita serahin ke satgas di titik kumpul,” jawab Bang Tigor tanpa melepaskan pandangan dari jalan tol.“Bagus. Satgas juga pasti butuh keterangan dia buat berita acara,” timpalku mengangguk puas.Claudia akhirnya mengangkat kepala mendengar namanya disebut. Suaranya terdengar serak dan nyaris habis karena terlalu lama menangis.“Raf… gue beneran minta maa
Last Updated : 2026-04-10 Read more