Tinggallah aku sendirian di taman belakang rumah, menikmati sisa udara pagi sambil meregangkan otot leher. Baru saja aku berniat memutar badan kembali ke kamar untuk melihat keadaan Shella, ponsel di saku celanaku kembali bergetar.Aku merogoh saku dan melihat deretan nomor tidak dikenal memanggil di layar. Tanpa curiga sedikit pun, ibu jariku langsung menggeser tombol hijau ke atas."Halo, dengan Rafli di sini. Ini siapa ya?" sapaku dengan nada suara datar.Hening. Sama sekali tidak ada jawaban dari seberang sana selama beberapa detik. Alhasil, aku sempat mengira ini cuma panggilan nyasar dari tenaga pemasaran bank.Namun, suara isakan tangis seorang perempuan tiba-tiba terdengar sangat jelas memecah kesunyian di ujung telepon."Mas Rafli... tolong aku..."Jantungku seakan berhenti berdetak detik itu juga. Suara itu adalah suara yang sangat kukenal, tapi mustahil bisa meneleponku dengan nada ketakutan seperti ini.Sialnya, suara perempuan menangis di ujung telepon barusan ternyata cu
Last Updated : 2026-06-15 Read more