Wanita di dalam ruangan itu, sama sekali tidak menoleh, dia terus saja menghitung dengan tatapan mata kosong. Pakaian putih yang dia kenakan terlihat sangat polos, sangat berbeda dengan gaun mewah, yang dulu selalu dia pamerkan.Menatap figur rapuh ibu kandungnya, dari balik kaca pembatas, air mata perlahan menetes membasahi pipi Shella."Kenapa dia bisa sampai kayak begini, Raf?" tanya Shella, dengan suara yang pecah karena tangis."Tekanan hidup dan rasa bersalah, kadang memang bisa menghancurkan otak manusia," jawabku, sambil merangkul pundaknya dengan erat."Dulu dia jahat sekali sama aku, tapi melihat dia sekarang, aku malah merasa kasihan," ucap Shella, sambil menyeka air mata yang terus mengalir."Itu artinya kamu punya hati yang jauh lebih baik, dibanding dia dulu," kataku, berusaha menenangkan gejolak emosi di hatinya.Mengusap lembut bahu kekasihnya, aku memberikan dukungan moral, tanpa mengucapkan banyak kata lagi. Mengambil napas panjang, wanita elegan tersebut akhirnya me
Read more