"Hahaha... Hahahahaha!!!"Tawa Alex kembali pecah, membelah kesunyian langit Pegunungan Bunga Abadi yang menegangkan. Suara tawa itu terdengar begitu renyah, meremehkan, dan sarat akan keangkuhan yang mutlak, seolah-olah ancaman dari seorang kultivator Dewa Bumi tahap puncak barusan hanyalah sebuah lelucon tak berarti di telinganya."Tua bangka... kau benar-benar lucu," kata Alex setelah tawanya mereda, sepasang mata emasnya berkilat tajam menembus ilusi kelopak bunga es yang mengurungnya.Ia melirik jari telunjuk Leluhur Jomblo Abadi yang mengacung ke arahnya, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan santai. Jubah hitamnya yang robek berkibar pelan, namun tidak ada sedikit pun tanda-tanda ketakutan atau niat untuk tunduk dalam gestur tubuhnya."Kau pikir aku datang kemari dan menggagalkan pernikahan ini hanya dengan modal nekat?" Alex menyipitkan matanya, nadanya berubah menjadi sangat dingin dan penuh perhitungan."Aku memang akui, dengan basis kultivasiku yang sekarang, me
Ler mais