"Lu apa hal mala-malao?""Bukan marah-marah, Toke! Tapi kalau kasih harga itu yang wajar-wajar saja. Kau pikir aku ini orang bodoh?" sahutku tegas.Aku lalu mengumpat dalam hati; Sialan ini orang tua, dia pikir sedikit uang tiga ratus ringgit? Pada saat yang sama, dia juga terdiam. Mungkin sedang berpikir, atau mungkin juga tidak sepenuhnya paham dengan apa yang aku katakan. Masalahnya, kalau dilihat dari raut wajahnya, dia tampak kebingungan."Tiga latus apa macam?"Dia kembali mengulang perkataan itu, cepat kusambar, "Apanya yang apa macam? Dua ratus ringgit kalau mau!""Haia, Kedah itu jauh o, tiga latus mulah sangat, ma..," dia bersikeras."Ya sudah, saya cari taksi lain saja," balasku tak mau mengalah.Pada saat aku hendak beredar, di saat inilah dia menyeru dengan kelam kabut, "Wei tunggu! Dus latus lima puluh, tak pelah cincai!"Selain menunda niat untuk berlalu pergi, aku juga diam-diam tersenyum dalam hati.Pria tua dengan rambut yang mulai jarang-jarang di bagian ubun-ubun
Terakhir Diperbarui : 2026-03-26 Baca selengkapnya