"Bagaimana anak-anak, pisang gorengnya enak, tidak? Enak dong..."Rafni yang menimpali, "Ini namanya sanggar, Om, bukan pisang goreng."Tak ada nilai humornya sama sekali, tapi tak lantas itu membuatku tidak tersenyum. Bahkan, seharusnya aku mencandai dia lagi, memang ada bedanya? Tapi selain waktunya yang memang tidak tepat, humor apa yang kita harapkan dari anak-anak yang bahkan boleh dikatakan belum diajari cara tersenyum dengan benar? Oleh karena itu, aku ikuti saja apa mau dia; "O... jadi ini namanya sanggar? Wah, aku baru tahu lho. M.. terus, sanggarnya enak, tidak?""Enak Om." Masih Rafni yang menimpali. Dia sambil menyeka wajah dengan menggunakan ujung kaosnya. "Enak sekali, tapi pedas sekali," imbuhnya.Kali ini nyaris pecah tawaku melihat ekspresi dia. Khususnya Rafni ini, sedari tadi diam-diam aku perhatikan. Jadi, mungkin saking laparnya, dia makan dengan sangat lahap sekali. Tapi kemudian, entah apa yang ada dalam pikirannya. Tadi itu tiba-tiba saja dia celup potongan
Huling Na-update : 2026-04-23 Magbasa pa