"Bara, ada apa? Apakah Mariana...""Iya Pak, Mariana, tolong bantu dia!""Baik-baik, aku mendengarnya, tapi tenangkan dirimu dulu."Aku datang dengan membawa kepanikan yang teramat sangat, tapi lihatlah, Pak Ridwan justru menyambutku dengan sikap kebapakannya yang membuatku pada akhirnya lagi-lagi... entahlah, aku tidak tahu lagi harus berkata apa."Baik, sekarang katakan dengan tenang, apa yang sudah terjadi, kenapa kamu terlihat panik seperti ini, apakah Mariana...""Iya Pak, waktu aku kesini, darah yang keluar dari hidung Mariana, baunya amis sekali seperti yang Bapak cemaskan hari itu." Kali ini aku yang tidak lagi menunggu sampai dia merampungkan kalimatnya. Pasalnya, aku juga merasa sudah lebih dulu merasa tahu apa yang akan dia tanyakan."Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un..." lafalnya dalam.Itu sebuah respon tulus, tapi aku tidak mungkin mengamini dia begitu saja, cepat kutepis."Pak, tolong jangan dulu terburu-buru berpikiran ke arah sana. Mariana belum tentu seperti yang ba
Dernière mise à jour : 2026-04-21 Read More