"Kamu benar, seharusnya memang tidak ada yang perlu dipertanyakan. Alasan kamu pun sangat jelas. Apabila kamu sampai kehilangan maafku, itu artinya kamu akan kehilangan Nola juga, bukan?"Oh? Aku nyaris ternganga dibuatnya. Semenohok inikah kata-katanya? Sial, ternyata jika ada yang pantas untuk ditertawakan, maka aku sendirilah orangnya, bukan dia!"Aku terbungkam, dan membuang muka sedikit lebih ke samping. Hanya sedikit upaya, biar dia tidak sepenuhnya tahu, bahwa dia baru saja membidik kebodohanku dengan sangat tepat, kebodohan yang justru kupikir adalah salah satu keahlianku.Namun kemudian, pada saat aku berpikir bahwa tak mungkin lagi dapat memperbaiki kesalahan ini, di saat inilah dia menunjukkan kepribadiannya yang lain. Atau, bisa jadi inilah Vina Andini yang sebenarnya."Tidak apa-apa," katanya lembut. "Kehilangan maafku, kamu masih bisa mendapatkannya di lain momen, sedangkan kehilangan Nola, hanya keberuntungan sajalah yang dapat menolongmu. Ayo, urusanmu yang sebenarnya
Terakhir Diperbarui : 2026-02-16 Baca selengkapnya