Bab 101“Apa-apaan kalian?” suara Liam meledak, berat dan bergetar, memenuhi ruangan itu seperti dentuman. Matanya menyala tajam, rahangnya mengeras, napasnya memburu seolah dadanya tak lagi mampu menampung amarah yang menumpuk terlalu lama.Maria refleks melangkah mendekat, tangannya terulur dengan gerakan gugup. “Li—Liam, dia—ka-kamu tenang dulu, Nak…,” pintanya dengan suara bergetar, nyaris memohon.Namun Liam justru menepis tangan itu dengan keras, gerakannya kasar dan tanpa ragu.“Bertahun-tahun aku patuh,” katanya, melangkah perlahan menjauh, sepatunya beradu dengan lantai marmer yang dingin. Setiap langkahnya terukur, tapi sorot matanya tak pernah lepas dari wajah Maria dan Ralph. “Aku turuti setiap aturan di rumah ini, sampai aku lupa siapa diriku sendiri.”Ia berhenti. Bahunya naik turun, menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar amarah.“Aku ketakutan. Aku trauma. Aku hampir mati,” lanjutnya, suaranya kini serak, penuh tekanan. “Dan tetap saja kalian menganggap semu
Last Updated : 2026-03-06 Read more