Bab 62Sabrina memeluk kantong belanjaan di dadanya, berdiri di anak tangga halaman rumah yang mulai menguning diterpa senja. Angin sore mengibaskan ujung rambutnya, tapi ia nyaris tak peduli. Pandangannya sesekali melirik ke arah Liam yang berdiri beberapa langkah darinya, punggungnya tegap, ponsel menempel di telinga.Nada suaranya rendah, terkontrol—nada orang yang terbiasa memberi perintah.“Bagaimana? Sudah dapat kabar?” tanya Liam, matanya menyipit menatap halaman depan seolah lawan bicaranya berdiri tepat di sana.Sabrina tidak mendengar jawaban dari seberang, hanya melihat perubahan kecil pada wajah Liam. Rahangnya mengeras. Jari-jarinya mencengkeram ponsel sedikit lebih kuat.“…Andrew yang memberiku nomor itu,” lanjut Liam. “Harusnya masih aktif.”Ia menarik napas tajam, lalu menghembuskannya pelan, seperti menahan kesabaran.“Oh, atau acak saja. Itu mudah buatmu.”Panggilan terputus.Liam menurunkan ponselnya, mendecih kesal, lalu mengusap wajahnya dengan satu tangan, kasar
Last Updated : 2026-02-05 Read more