Bab 92Liam mengibaskan tangan ibunya dengan gerakan singkat namun tegas, seolah sentuhan itu membakar kulitnya. Bunyi decakan kecil lolos dari bibirnya, bergema di lorong yang sudah mulai lengang.“Jangan menarikku begitu saja di depan orang,” katanya dingin. “Tidak sopan, Bu.”Maria berhenti melangkah. Tumit sepatunya berderap satu kali sebelum ia berbalik, gaun mahalnya berdesir halus. Ia membuang muka ke samping, lalu mendesis dengan helaan napas panjang—helas yang lebih menyerupai kemarahan yang ditahan paksa.“Liam,” ucapnya akhirnya, menahan nada agar tetap terdengar sebagai seorang ibu, bukan perempuan yang sedang panik. “Kamu tidak serius tentang perempuan itu, kan?”Kening Liam berkerut. Ia menautkan kedua tangannya di saku celana, bahunya mengeras. “Tentang apa maksud Ibu?”Maria mendengus pelan, lalu menatap putranya lurus-lurus. Tatapan itu tajam, menilai, dan penuh tuntutan. “Jangan berpura-pura tidak mengerti. Tentang hubunganmu dengan perempuan itu. Jangan main-main, L
Terakhir Diperbarui : 2026-02-21 Baca selengkapnya