Bab 83Liam menjabat tangan pria itu dengan senyum tenang yang sudah terlatih. Telapak tangannya hangat, genggamannya mantap—tanda kepercayaan diri yang dibangun dari puluhan tahun berada di ruang-ruang negosiasi seperti ini. Namun di balik sikap santainya, ada tarikan halus di otot rahangnya. Tegang. Bukan gugup, melainkan sebuah kejutan yang datang terlalu cepat untuk sepenuhnya diproses.Ia merapikan jasnya dengan satu gerakan singkat, lalu duduk berhadapan. Punggungnya lurus, bahu terbuka, seolah ia sedang menegaskan batas yang tak kasatmata.“Jadi, hal penting apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya, Tuan Dean?” tanya Liam tenang.Dean Robert tersenyum, senyum seorang pria yang terbiasa menjadi pusat perhatian—tenang, percaya diri, dengan kilau kemenangan yang samar di matanya.Di sisi lain, Ralph Dawson tampak mengernyit. Pria tua itu menoleh bergantian, menatap Liam lalu Dean, ekspresinya menyiratkan keterkejutan yang tak ia sembunyikan.“Kamu sudah mengenalnya, Liam?” tanyan
Last Updated : 2026-02-13 Read more