Sabrina menarik napas sedalam yang ia mampu, namun tetap terasa dangkal seolah dadanya diikat benang tak kasat mata. Jemarinya saling menggenggam, dingin dan sedikit bergetar, mencoba meredam gugup yang menghimpit dari balik tulang rusuk. Malam terasa terlalu tenang, seakan menunggu sesuatu meledak dari dalam dirinya.Di sisi lain pintu kaca balkon, Liam berdiri membelakangi ruangan, tubuh tinggi itu memotong cahaya malam yang tumpah dari langit kota. Garis bahunya tegas, mantap, seperti siluet seorang pria yang terbiasa diperhatikan namun tak pernah goyah. Angin malam menepuk ujung rambutnya, namun tidak sedikit pun mengusik ketenangannya.“Ayo, Sabrina. Lakukan dengan baik.”Ia menegakkan bahu, memantapkan langkah, lalu mendorong pintu balkon perlahan.Cahaya lampu kota memercik lembut ke wajah Liam saat ia mendekat. Laki-laki itu memutar kepala sedikit, seolah mendengar sesuatu yang ia antisipasi.“Selamat malam, Tuan,” ucap Sabrina, menjaga senyumnya tetap sopan. “Kita belum sempa
Zuletzt aktualisiert : 2026-01-21 Mehr lesen