Bab 21Mattew berdiri tepat di hadapan Sabrina, tubuhnya sedikit condong ke depan, seolah tak ingin ada jarak di antara mereka. Tangannya menggenggam jemari Sabrina—lembut, hangat—dengan cara yang biasa ia lakukan, cara yang dulu selalu membuat Sabrina merasa aman.Namun kini, genggaman itu justru terasa menahan.“Aku masih rindu,” ucap Mattew pelan, suaranya merendah, nyaris memohon. “Setidaknya beri aku waktu lebih banyak lagi setelah ini.”Sabrina menunduk. Matanya jatuh pada tangan mereka yang saling bertaut. Bukan karena ia tak mau, bukan pula karena perasaannya benar-benar mati. Hanya saja, kepalanya terlalu penuh. Ibunya yang baru saja keluar dari meja operasi, rasa lelah yang menumpuk, dan satu pertanyaan besar tentang siapa sebenarnya yang telah menanggung biaya rumah sakit—semua itu berputar tanpa henti di pikirannya.“Ya,” jawab Sabrina akhirnya, suaranya lirih namun tegas. “Tunggu aku selesai dengan semua ini.”Mattew tersenyum kecil. Ia menunduk, memberi kecupan singkat d
Baca selengkapnya