Melihat itu, aku melirik ke arah podium tinggi di ruang rapat. Benar saja, aku melihat Hamid sedang memandang ke sekeliling.[ Aku sudah di ruang rapat, kamu mulai saja. ][ Nanti, aku akan langsung naik ke panggung. ]Setelah membalas Hamid, aku bersiap bangkit dan berjalan ke atas panggung. Namun, pantatku bahkan belum terangkat, Nindy di samping sudah menarikku."Kenapa? Nggak tahan dengarnya? Kamu malu setengah mati, jadi mau pergi?""Lepaskan!" Aku mengernyit dan membentaknya dengan dingin.Namun, Nindy tetap tidak mau melepaskan lenganku, malah berkata dengan ekspresi tak sabar, "Sudahlah, aku akui tadi kata-kataku memang agak keterlaluan. Tapi sebenarnya kamu mau ngambek sampai kapan?""Sudah cukup, Ray. Kamu cuma berpikiran sempit, keberatan karena aku ke pesta sama Chicco, 'kan?"Sampai di sini, Nindy menarik napas dalam, seolah-olah memaksa dirinya menurunkan harga diri yang besar, baru bisa menjelaskan dengan tenang kepadaku."Itu pesta anggur kelas atas, aturannya banyak se
Read more