“Tasya bangun!”“Aduh kenapa sih Mas? Aku masih ngantuk ini!”“Hari ini kan kamu libur, tolong jagain Gavin dulu!”“Jagain? Tumben banget, memangnya Mas mau ke mana? Enak aja, aku tu capek habis kerja Mas jadi aku libur itu bukan buat jadi babu tapi mau istirahat!”“Jadi babu? Kamu itu ibuknya Tasya! Sudah jagain dulu, aku mau kerja!”Tasya tertegun, matanya membola, “Apa kerja? Hahahahha, aku lagi ndak mimpi kan ini?”“Kenapa kamu ngetawain aku? Memangnya salah kalau aku kerja?”“Mas, kamu mimpi apa semalem? Tiba-tiba banget kamu kerja, sudah tobat to?”“Kamu ndak usah mengolok-ngolok aku! Jagain Gavin, giliran karena aku mau kerja.” Malikh tak menggubris candaan Tasya terhadapnya.“Ndak-ndak, hari ini kamu ndak usah kerja aku capek Mas aku mau tidur! Besok aku kerja, kalau aku kurang istirahat mau dapet uang dari mana aku?”“Jalan pikiranmu itu bagaimana sih Tasya? Aku kerja salah aku ndak kerja makin salah, sekarang kalau kamu ndak mau jagain Gavin aku harus bagaimana?”“Hah, begi
Ler mais