Rasa sakit datang lebih dulu daripada mimpi.Lin Yuelian terbangun dengan sensasi seolah kepalanya dibelah dua, bukan oleh suara atau cahaya—melainkan oleh kenangan.Ia terengah, jemarinya mencengkeram seprai. Tidak ada darah. Tidak ada es. Namun di balik matanya, sesuatu berputar liar, menekan dari dalam seperti gelombang yang memaksa keluar.“Jangan… sekarang,” bisiknya.Segel di pergelangan tangannya berdenyut—bukan dingin seperti biasa, melainkan panas yang salah.Bai Shuqing muncul di permukaan wadah air dengan cipratan keras, sisiknya meredup. Ini bukan mimpi, katanya cepat. Ini disusupkan.Yuelian memejamkan mata—dan dunia runtuh.Ia berdiri di sebuah aula yang dikenalnya.Istana Changan.Namun ada yang berbeda.Langit-langitnya lebih rendah. Pilar-pilar naga dipenuhi retakan. Bau darah samar bercampur dupa.Dan di tengah aula—Ibunya berlutut.Tidak. Itu tidak mungkin.“Ibu?” suara Yuelian bergetar.Lin Meiyun mendongak. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, jubahnya ternodai
Last Updated : 2025-12-28 Read more