Jiang Wuyin tidak langsung bergerak. Bukan karena ragu, melainkan karena untuk pertama kalinya ia dihadapkan pada sesuatu yang tidak bisa ia pecahkan hanya dengan logika atau kekuasaan. Pantulan di permukaan es itu masih ada—jelas, tajam, dan salah. Ia melihat Lin Yuelian berdiri di depannya, napasnya stabil, tubuhnya tidak bergerak, tetapi bayangan itu tersenyum lebih dulu, dengan sudut bibir yang terlalu tenang, terlalu sadar, seolah memahami sesuatu yang bahkan Yuelian sendiri belum sepenuhnya mengerti.Udara di sekitar mereka tidak lagi sekadar dingin, melainkan menekan, masuk ke paru-paru dan membuat setiap tarikan napas terasa berat, sementara dunia di luar taman seolah terputus, tidak ada suara, tidak ada gerakan, hanya ruang ini yang perlahan dipenuhi sesuatu yang bangun dari dalam.“Lian’er,” suara Jiang Wuyin lebih rendah dari biasanya, menahan sesuatu yang tidak ia ucapkan, langkahnya maju satu tingkat menembus tekanan dingin yang tidak terlihat.Ia berhenti cukup dekat unt
閱讀更多