“Hah…” terdengar helaan napas panjang dari Putri. “Aduh, nafasku terasa sangat sesak, benar-benar tertahan. Pria itu memiliki wibawa yang luar biasa,” ucapnya lagi setelah melihat Tan Sri beserta para anak buahnya pergi. Rama menoleh sekilas, hanya menanggapi dengan senyum tipis. “Baru kali ini juga aku ditunjuk untuk menemani seseorang ke Kuala Lumpur. Kukira bakal Pak Baron,” celetuk Yudi, menambahkan obrolan. Rama mengangguk pelan. Ia sendiri merasa heran. Beruntung bukan Baron, pikirnya. Kalau saja aku dipasangkan dengannya lagi, bisa-bisa berabe. “Bos juga tahu, kok. Mana yang benar-benar berkelas, mana yang cuma kelas gang,” Putri kembali bersuara sambil menatap Rama dengan penuh kebanggaan. “Iya, kan, Pak?” “Ah, kalian bisa saja,” balas Rama dengan senyum malu-malu. “Eh, Pak… em, kenapa ya? Aku melihat kalian berdua itu kayak mirip banget,” Putri kembali berbicara, kali ini dengan nada lebih rendah, nyaris berbisik. “Siapa yang kalian maksud?” tanya Rama. “It
Última atualização : 2026-01-12 Ler mais