Ia meraih ponsel, menatap layar beberapa detik, lalu akhirnya menekan nomor Nadia. Nada sambung terdengar panjang. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hingga entah panggilan ke berapa, akhirnya diangkat. “Ada apa, Mas?” suara Nadia terdengar datar, bahkan cenderung ketus. “Kamu kenapa belum pulang?” tanya Rama, berusaha terdengar biasa. “Sebentar lagi.” “Aku mau ngomong hal penting,” ucap Rama, sengaja menahan inti pembicaraan. “Apaan sih, Mas? Bilang saja sekarang.” Rama menghela napas pelan. Rahangnya mengeras. “Pulang dulu, Nad. Emangnya kerjaan kamu belum selesai jam segini?” “Mas, namanya juga lembur,” jawab Nadia cepat. “Setiap malam?” Rama menekan, suaranya lebih rendah tapi tajam. Di seberang sana terdengar jeda singkat. “Yaudah, Mas. Aku bentar lagi pulang. Tunggu saja!” “Iya, Nad, aku—” “Siapa itu nad?” Suara itu menyela. Suara laki-laki. Jelas. Dekat. “Nad?” Rama spontan berdiri. Dadanya berdegup keras. Tut… tut… tut… Telepon terputus. Rama menat
最終更新日 : 2026-01-01 続きを読む