Malam itu, Rama pulang ke rumah dengan langkah yang tetap tenang, wajah datar, dan sikap yang nyaris sama seperti hari-hari sebelumnya. Nadia sama sekali tidak curiga. Baginya, Rama memang selalu begitu—pendiam, penurut, dan mudah ditebak. Nadia tidak sadar bahwa di balik ketenangan itu, Rama baru saja membawa rahasia yang menghancurkan seluruh pandangannya terhadap pernikahan mereka. Di kamar, Nadia sibuk dengan ponselnya. Ia tertawa kecil, jemarinya mengetik cepat, entah membalas pesan dari siapa. Ia bahkan tidak menoleh saat Rama masuk. “Aku capek, Nad. Tidur duluan,” ucap Rama ringan. Tidak ada tuduhan, tidak ada pertanyaan tentang siapa yang diajaknya bicara. Rama hanya melirik sekilas, lalu berbaring dengan membelakangi istrinya. Pikirannya sudah tidak lagi di sana; ia terus terngiang pengakuan Alya di mobil tadi siang tentang asal-usul Nadia. *** Seminggu berlalu dengan cepat. Masa cuti Rama pun berakhir. Pagi itu, Rama berdiri di depan cermin, merapikan kemeja kerjany
最終更新日 : 2026-01-05 続きを読む