Masih ada tersisa dua potong pakaian pada tubuh Ivy, dan jantungnya kini kembali berdegup khawatir. Ingat bagaimana Matteo pernah berhenti saat mereka sampai pada taraf ini. Tapi kekhawatiran Ivy tak diperlukan.Mata hijau yang dipujanya itu, tidak terlihat takut, hanya nafsu yang ada di sana. Nafsu murni yang mendorong tangan Matteo merengkuh tubuh Ivy."Dan aku mengira kau tak bisa lebih indah lagi...." desis Matteo. Tangan Matteo menyerang punggung Ivy, melepaskan pengait, ingin memandang dua benda yang tadi dipujanya, secara langsung. Matteo merintih, mereka seperti apa yang Matteo inginkan. Ranum, indah dan mengundang.Dengan dorongan hasrat, Matteo tak ragu memenuhi undangan itu. Tangannya menyentuh kulit pucat itu dengan lembut, dan dia tersenyum, saat Ivy bereaksi seperti yang dia inginkan.Bagian gelap pada puncaknya, mengeras sempurna, kembali mengundang Matteo untuk menyentuh lebih berani."Yes!" Dan Ivy menjerit, saat Matteo memutuskan untuk mengabulkan undangan itu.Sentuh
Read more