“Dinara, Dinara...”Andaliman menyentuh bahu Dinara, membuatnya tersentak kecil. Dinara hampir lupa jika di sisinya ada Andaliman, pria yang kini menjadi tunangannya. Sosok yang seharusnya memenuhi seluruh hati dan pikirannya. Namun, ia tidak bisa membohongi diri sendiri, hati dan tubuhnya seolah sedang berkhianat, masih bergetar hebat hanya karena melihat siluet Elang Adikara di dalam mobil tadi.“Ayo, masuk... Kamu masih sakit begini, tidak boleh kena angin malam terlalu lama,” ujar Andaliman penuh perhatian. Meski berusaha terdengar biasa, suaranya terasa penuh tekanan, seolah ada beban yang mengganjal di dadanya.Dinara hanya menurut. Ia berjalan beriringan dengan Andaliman memasuki area kosan. “Mas, kita di ruang bawah saja, ya. Kosan ini khusus perempuan, tamu laki-laki tidak boleh masuk sampai ke dalam koridor kamar,” ucap Dinara pelan. Ia menghentikan langkahnya tepat di area penerimaan tamu.Area itu memang disediakan khusus bagi para penghuni untuk menerima kunjungan. Ruang
Leer más