Tatapan Dinara menerawang, ada raut khawatir dengan semua ucapan Soraya yang terasa ambigu.Soraya tersenyum kecil, sambil menyesap minumannya.“Tenang Dinara, aku ada dipihakmu. Aku cukup salut, baru kamu sekretaris yang bertahan dengan sikap Elang. Aku harap kamu bisa bersabar lagi.”Dinara tersenyum kecil, ingatannya yang terjadi barusan terlintas.“Ya semoga saja Bu, sebelum Pak Elang sendiri yang memecat saya...”“Hmm, kamu benar juga... Elang sulit ditebak. Tapi aku punya keyakinan akan kamu, Dinara. Jangan kecewakan saya...” sela Soraya.Dinara mengangguk, “Baik, Bu.”“Baiklah, sepertinya kita akan segera berangkat ke proyek. Saya tunggu di mobil,” Ujar Soraya sambil berdiri.Dinara mengantar Soraya hingga ke ambang pintu. Namun, sebelum Soraya benar-benar melangkah keluar, wanita itu mendadak berhenti dan berbalik. Matanya tertuju tepat pada satu titik di leher Dinara yang tak tertutup kerah pakaian.Soraya mengeluarkan sebuah syal dari dalam tas mewahnya, “Ini pakai, Dinara..
Read more