Langkah kaki Dinara sangat hati-hati, nyaris tanpa suara di atas lantai yang dingin. Suasana villa sudah sangat sepi, ia tahu Elang dan Andaliman pasti sudah terlelap setelah hari yang panjang dan melelahkan. Ini sudah lewat tengah malam, waktu di mana sebuah pengkhianatan akan mulai menampakkan wujudnya.Rasa penasaran yang membakar membuat Dinara nekat. Tidak berhasil mengintip dari celah gorden jendela depan. Ia nekat menuju balkonnya, mengecek posisi balkon. Antara balkonnya dengan balkon kamar sebelah hanya terpisahkan oleh celah kecil sekitar tiga puluh centimeter dan pembatasnya rendah. Dengan jantung yang berdegup kencang, adrenalin yang berpacu, Dinara memanjat pembatas itu. Berpindah ke balkon sebelah dengan gerakan hati-hati, baju tidurnya yang tipis melambai-lambai tertiup angin malam. Sesaat kemudian, ia sudah berpindah posisi berada di balkon kamar Paman Johan. Ia menahan nafas, merapatkan tubuhnya ke dinding kacanya.Gorden di kamar itu tidak tertutup sempurna. Ada cel
Magbasa pa