“Pak, kita harus kembali ke Jakarta. Saya takut Arvin mengincar Julia,” ucap Dinara cemas. Ia tidak bisa membayangkan jika sahabat satu-satunya itu harus menanggung dampak dari dendam Arvin.“Tenang, Bu Dinara. Kepolisian Surabaya sudah berkoordinasi dengan Jakarta. Jika ia lolos dari stasiun, tim di sana sudah bersiaga. Kami yakin dia akan kembali ke Jakarta,” sela Ipda Adi menenangkan.“Serahkan semuanya pada polisi, Dinara,” tambah Elang singkat. Dinara terdiam, meski hatinya masih dirayapi ketakutan.Menjelang siang, para petugas berpamitan. Begitu pintu kamar tertutup, suasana menjadi sunyi. Elang menghampiri Dinara yang sedang meringkuk di atas ranjang, lalu ikut naik dan memeluknya dari belakang. Dinara tersentak.“Pak...” desahnya.“Tenang. Kamu sudah memperingatkan Julia untuk pergi dari kosnya, kan?” bisik Elang rendah.“Iya, Pak. Dia langsung pergi meski sempat panik.” Dinara membalikkan tubuh, kini menatap langsung ke dalam manik mata Elang Adikara yang kelam.“Lalu, apa y
Read more