“Maaf, Mas...” lirih Dinara, suaranya bergetar menahan beban di dadanya.“Maaf? Kamu pikir semudah itu?” sahut Andaliman di seberang telepon, suaranya meninggi. “Kamu membuatku panik, Dinara! Kamu anggap aku ini apa? Kita sebentar lagi akan menikah!”Kata 'menikah' itu menghantam perasaan Dinara. Rasa bersalahnya pada Andaliman kian menumpuk. Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa kini ia sudah sah menjadi istri Elang Adikara, bos mereka sendiri?“Dinara! Aku mau kita bertemu sekarang juga!” desak Andaliman.“Maaf, Mas, tapi aku tidak bisa...” tolak Dinara, berusaha tetap tenang meski jemarinya mendingin.“Kenapa? Kalau begini terus, bagaimana kita bisa menyiapkan pernikahan kita?” tanya Andaliman, emosinya masih meluap. “Kamu di mana sekarang? Biar aku susul.”“Jangan, Mas. Aku masih ada urusan yang tidak bisa ditinggal,” ujar Dinara gugup.“Kapan kamu masuk kantor?” tanya Andaliman lagi, mencoba mencari celah untuk bertemu.“Mas, aku... aku sudah resign.”Dinara tersentak, ia menyadar
Read more