Kamar itu bau apak dan lembap, dengan cat dinding yang mengelupas dan jendela berteralis besi yang tertutup rapat oleh tirai beludru usang. Starla menatap pantulan dirinya yang samar di cermin rias yang kotor, matanya bengkak, air mata telah mengering meninggalkan jejak garam di pipinya. Perutnya yang membesar terasa tegang, dan setiap kali janin di dalamnya bergerak, rasa panik kian mencengkeram. Hampir sembilan bulan dia menjaga nyawa kecil ini, melindunginya dari dunia, dan kini, dia sendiri dalam bahaya."Waktunya untuk pertunjukan, Starla," suara Joe serak, membawa aura ancaman yang membuat bulu kuduknya merinding.Starla mencoba menghindari pisau lipat tajam di tangan Joe. Namun, dirinya tak mampu karena terikat di atas kursi kayu. "Joe, kumohon … jangan lakukan ini," bisiknya, suaranya tercekat. "Apa yang kau mau? Aku akan memberikan keinginanmu, tapi jangan sakiti aku dan anakku."Senyum Joe melengkung sinis. "Lucu sekali kau membujukku begitu, Starla. Kau bersenang-senang di
Read more