LOGINKedamaian malam di kediaman megah mereka di Montecarlo tiba-tiba buyar. Jam dinding menunjukkan pukul 02.00 waktu setempat, ketika rasa sakit yang tajam dan berdenyut menyerang bagian bawah perut Starla. Bukan sekadar kram biasa, melainkan kontraksi yang begitu hebat, seolah-olah seluruh otot di tubuhnya berkontraksi secara bersamaan dengan intensitas yang tak tertahankan.Starla mengerang pelan, tangannya mencengkeram seprai dengan kuat. Dia mencoba bernapas perlahan, mengingat semua latihan yang telah dia pelajari selama masa kehamilan, tetapi rasa sakit itu datang bergelombang, semakin kuat dan juga sering. Dengan tangan gemetar, dia menyelipkan tangan ke bawah selimut, meraba bagian bawah tubuhnya.Tidak salah lagi. Seprei itu basah kuyup. Air ketubannya sudah pecah."Brock ... Brocklyn ...," panggilnya dengan suara parau, menggoyangkan lengan suaminya yang sedang terlelap pulas di sampingnya. "Brooklyn, bangun! Sudah waktunya ..."Brocklyn Hanson tersentak bangun dalam sekejap. M
Suara gemuruh tepuk tangan dan sorakan penonton meneriakkan namanya masih terngiang-ngiang di telinga Starla. Lima tahun lamanya dia vakum dari dunia hiburan, dan kini comeback-nya seolah membuktikan bahwa nama besarnya tak pernah pudar. Tur konser yang digelar di berbagai kota Eropa menjadi bukti nyata kecintaannya pada musik. Dari Royal Albert Hall yang megah di London, hingga suasana romantis di Paris, serta energi penonton di Berlin, Amsterdam, Dublin, hingga Praha, Starla berhasil memukau semua orang.Di setiap panggung gemerlap dengan spot light tertuju kepadanya, Fanny Stuart selalu ada di sisi Starla. Manajer setia itu tak pernah lelah mengatur jadwal padat, memastikan kostum, makeup, dan teknis panggung berjalan sempurna. Starla merasa hidup kembali. Dialah ratu panggung, dan sorakan penonton adalah napas baginya.Namun, waktu terus berjalan. Kini usia kandungan Starla sudah menginjak bulan keempat. Perutnya yang mulai membuncit perlahan menyembul di balik gaun-gaun indahnya
Lantai dua puluh Hotel Ashton Star berdiri megah di jantung Monte Carlo, Monaco. Dari sini, pemandangan Laut Mediterania yang biru terhampar luas bagai permadani berkilauan di bawah sinar matahari. Angin laut yang sejuk menyelinap masuk melalui celah jendela besar penthouse yang menjadi tempat tinggal keluarga Hanson. Starla berdiri di balkon, memandang ke arah dermaga yang terlihat jelas dari ketinggian. Sepuluh kapal yacht milik suaminya berbaris rapi di sana, berkilauan terkena sinar matahari pagi."Mom, lihat! Ada kapal besar yang baru saja datang!" seru suara kecil dari sebelahnya. Ashton, putra mereka yang berusia empat tahun menunjuk ke bawah. Rambutnya yang ikal gelap terurai rapi, dan matanya yang berwarna hijau kebiruan cerah bersinar penuh semangat.Starla berlutut dan memeluk tubuh mungil itu. "Iya, Nak. Itu kapal milik Daddy. Nanti kalau ada waktu, kita bisa naik salah satunya ya?""Benarkah? Asyik!" Ashton melompat-lompat kegirangan.Tepat saat itu, pintu kamar mandi te
Pesawat jet pribadi yang membawa keluarga kecil itu mendarat di Bandara Nice Côte d'Azur (NCE) yang terletak di kota Nice, Prancis. Karena wilayah Monaco yang kecil, tak ada bandara di sana, hanya tersedia Heliport Monaco (MCM) yang melayani penerbangan pendek terutama dari Nice ke Monaco.Selain menggunakan helikopter, transportasi lain adalah mobil dan kereta api yang hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke Monaco dari Nice.Keluarga Brocklyn dijemput oleh mobil limousine dari Hotel Ashton Star milik jaringan grup Hanson. Segala kekayaan yang didapat selama puluhan tahun menjadi penguasa dunia bawah tanah di Los Angeles disulap oleh pria mantan mafia itu menjadi aset bisnis bersih.Brocklyn membeli beberapa helikopter, kapal yacht, mendirikan hotel dan supermarket di tengah kota Montecarlo yang menjadi pusat bisnis di Monaco. Nominal modal yang dia gelontorkan sangat banyak selama tiga tahun ini. Namun, hasilnya berlipat kali ganda. Namanya menjadi buah bibir di kalangan j
Dua hari penuh, nyawa Brooklyn Hanson tergantung di ujung tanduk. Nyaris 48 jam, pria itu terbaring tak sadarkan diri, terombang-ambing antara hidup dan mati akibat kehilangan darah yang sangat banyak. Dua peluru yang menembus tubuhnya tidak sembarangan bersarang; satu peluru menembus usus halusnya, sementara yang lain menancap di paru-paru kanan, membuat dokter sempat harus berjuang keras untuk menutup luka-luka dalam yang berbahaya itu.Beruntung, ketangguhan fisik yang terasah selama puluhan tahun berjuang di dunia bawah tanah dan bantuan anak buahnya membuat nyawa pria itu tetap tertahan. Tiga liter darah yang disumbangkan secara sukarela oleh anggota klan Hawk King yang memiliki golongan darah yang sama dengan Brooklyn, menjadi penopang terbesar hingga operasi berjalan lancar dan nyawa pria yang paling disegani di klan Hawk King itu bisa diselamatkan.Kini, mata Brocklyn perlahan terbuka. Pandangan yang semula kabur perlahan mulai terfokus, menyadari bahwa dia masih hidup. Rasa s
Sirine ambulans meraung-raung membelah malam kota Los Angeles, seolah ikut berteriak panik menyadari bahwa nyawa seorang legenda sedang bertarung melawan maut. Di dalam ruang sempit ambulans yang berbau darah dan obat-obatan itu, Brooklyn Hanson terbaring lemah di atas tandu darurat. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal berat, dan selang oksigen terpasang di hidungnya.Dua peluru tajam telah menembus perut dan punggungnya. Darah terus merembes membasahi perban dan kain di sekitar luka, menandakan pendarahan yang tak kunjung berhenti.Di sampingnya, duduk Corby Killians. Pemimpin baru Hawk King ini menggenggam tangan besar mantan bosnya dengan erat. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa takut kehilangan dan amarah yang membara terhadap si pelaku penembakan."Tahan, Master Hanson ... bertahanlah," bisik Corby parau, matanya berkaca-kaca. "Kita sudah hampir sampai. Anda harus kuat."Brooklyn hanya mampu mengerjapkan mata lemah. Kesadarannya mulai memudar. Corby tahu, satu-
Reynard yang biasanya tampil gagah dan penuh kendali, mantan wali kota Baltimore yang terpilih tiga kali berturut-turut itu kini mengerutkan kening dalam kegelisahan, jemarinya tidak berhenti mengetuk meja kayu Ek di hadapannya.“Baru 24 jam, tapi rasanya sudah seperti bertahun-tahun tanpa kabar St
Aroma kopi arabika yang baru diseduh bercampur dengan wangi daun ivy yang menggantung di pot-pot keramik di sudut ruangan. Ivy Leaves Cafe, sebuah tempat yang tersembunyi di antara gedung-gedung tua di pusat kota Baltimore, menjadi saksi pertemuan yang penuh ketegangan pada sore itu. Starla Kaplin
"Hoeek ... hooeek!" Suara mual di pagi hari itu berasal dari kamar mandi Starla. Wanita itu berjongkok menghadap kloset untuk mengeluarkan semua isi lambungnya yang masih tersisa.Tanda-tanda yang awalnya dia pikir tidak akan pernah muncul akhirnya terjadi juga. Tepat di hari pemilihan wali kota ya
"Apa kau ingin melenyapkan nyawaku, Brocklyn?" tanya Gracie dengan tawa mengejek memandang pria yang menyakitinya itu. Telapak tangannya retak tulang jari begitu menyakitkan karena diinjak kaki Brocklyn."Hmm ... apa kau benar-benar cari mati, Nona Muda Ortiz?" ucap Brocklyn dengan seringai seram.