Fajar datang tanpa suara. Tidak ada matahari yang langsung muncul di puncak. Yang ada hanyalah perubahan warna hitam berubah abu-abu, lalu abu-abu pucat yang dingin. Kabut masih tebal, menggantung rendah, seperti selimut basah yang enggan pergi.Ara terbangun perlahan. Tubuhnya kaku. Lehernya pegal. Jari-jarinya mati rasa. Api unggun sudah lama padam, menyisakan lingkaran abu dan arang hitam yang dingin. Nafasnya keluar pendek-pendek saat ia duduk, menarik jaket lebih rapat. Ia masih hidup. Kesadaran itu datang lebih dulu daripada rasa sakit.Ara mengusap wajahnya, menekan kelopak mata yang perih. Tidurnya dangkal, dipenuhi mimpi patah bayangan tangan berdarah, suara tawa Arcel yang menggema terlalu dekat, dan wajah Monika yang diam menatap tanpa kelopak.Ia menelan ludah. “Masih pagi,” gumamnya pelan, melihat jam di ponsel. Layarnya menyala sebentar, lalu kembali menampilkan tulisan yang sama seperti semalam.No Signal.Entah kenapa, itu membuatnya sedikit lega. Ara berdiri. Kakinya
Terakhir Diperbarui : 2025-12-20 Baca selengkapnya