Nala mendadak kehilangan kemampuan bicara. Suara wanita itu begitu renyah, kontras dengan bayangan 'calon mertua galak' yang sempat melintas di benaknya. Ia refleks merapikan blusnya yang sebenarnya sudah rapi, lalu menyalami tangan wanita itu dengan takzim. "S-siang, Bu. Saya Nala," ucapnya pelan, hampir tenggelam oleh debar jantungnya sendiri. "Iya, Nala, Ibu udah denger soal kamu dari Gara. Ayo, ayo masuk, Nduk. Kebetulan Ibu udah bikin teh sama gorengan tadi." ujar Ibu Hanggara sambil merangkul bahu Nala, bersikap sangat akrab seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama. Hanggara yang berdiri di belakang hanya bisa menggelengkan kepala melihat ibunya yang begitu bersemangat. Ia menatap punggung Nala dengan tatapan yang dalam, ada rasa lega sekaligus bangga melihat bagaimana Nala dengan mudah mencuri hati ibunya di detik pertama bahkan tanpa melakukan apapun. Nala menoleh cepat, meminta pertolongan lewat tatapannya. Namun, Hanggara justru tersenyum tipis, memberi kode melalui
Read more