Begitu melewati pintu jati yang kokoh, Nala disambut oleh suasana rumah yang sangat tenang. Di ruang tamu yang luas itu, seorang pria paruh baya yang masih tampak bugar duduk di sofa tunggal. Pria itu memakai koko putih dan sedang meletakkan korannya begitu menyadari kehadiran tamu."Nah, Pak, ini Nala yang diceritain Gara," cetus Ibu Hanggara dengan nada riang, masih merangkul bahu Nala.Pria yang dipanggil Bapak itu berdiri, lalu tersenyum sangat lebar. Sorot matanya ramah, persis seperti tatapan Hanggara saat sedang tidak bersikap kaku."Oh, ini Nala? Cantik ya, pinter sekali kamu cari cewek, Gar," ucap Pak Gunawan—Bapak Hanggara—ambil tertawa renyah. Sementara Nala, seperti biasa, ia salah tingkah! "Ayo duduk, Nduk. Anggap aja rumah sendiri, nggak usah sungkan sama Bapak.""Terima kasih, Pak." Sebelum duduk, Nala menoleh pada Hanggara, meminta laki-laki itu duduk di dekatnya.Hanggara seolah mengerti arti tatapan memohon dari Nala. Tanpa banyak bicara, ia ikut mendaratkan tubuhnya
Last Updated : 2026-01-13 Read more