Nala menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Dengan langkah gontai dan kepala tertunduk, ia membuka pintu kamar. Di ruang tamu, Pak Bakti sudah duduk di sofa panjang dengan wajah yang sangat datar, ditemani sang ibu di sisi kiri sementara Banyu berdiri bersandar pada pilar pintu dengan tangan bersedekap, menatap adiknya tajam. Bajunya yang tadi basah kini sudah berganti dengan sweater tebal berwarna abu."Duduk, Nala," perintah Pak Bakti. Suaranya tidak tinggi, namun getaran kekecewaan di dalamnya jauh lebih menyakitkan daripada bentakan Banyu tadi di jalan.Nala duduk di sofa tunggal, meremas jemarinya yang masih terasa dingin. "Pa... Ma... maafin Nala," cicitnya lirih, nyaris tenggelam dalam keheningan ruangan."Perjalanan dari sini ke kota itu satu jam lebih, Nala." Pak Bakti memulai bicaranya, nadanya getir. "Bisa-bisanya kamu pergi ke sana, sendirian?" Pak Bakti mengembuskan napas panjang, "Dan kamu juga bohong, izinnya ke mana perginya ke mana. Papa
Last Updated : 2025-12-25 Read more