Keesokan paginya, Nala terbangun dengan perasaan yang jauh lebih baik, meski kakinya masih terasa sedikit kaku saat menapak ke lantai. Setelah mandi dan bersiap, ia membuka pintu kamarnya, berniat menuju dapur. Namun, langkahnya langsung terhenti di ambang pintu.Di depannya, Banyu sudah berdiri mematung dengan tampang memelas yang dibuat-buat. Di tangannya terdapat sepiring penuh jajanan pasar. Mulai dari kue lumpur, lupis, hingga nagasari, yang entah kapan dibelinya, karena sisa embun di bungkus plastiknya menunjukkan jajanan itu masih sangat segar."Pagi, Tuan Putri Nala yang cantik, anggun, dan baik hati," sapa Banyu dengan suara yang sangat lembut. "Mas udah beli jajanan kesukaan kamu di pasar tadi subuh. Masih anget, Nal. Mas minta maaf ya soal semalam? Mas beneran nggak sengaja."Nala hanya menatap datar piring tersebut, lalu beralih menatap wajah kakaknya tanpa ekspresi. Ia teringat rasa nyut-nyutan di kakinya semalam yang membuatnya sampai menangis. Tanpa mengucapkan sepatah
Last Updated : 2026-01-05 Read more