Beberapa jam kemudian, Nala terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Meskipun kepalanya masih terasa sedikit berat, rasa nyeri yang menghujam tadi pagi sudah jauh berkurang. Keringat membasahi kaosnya, pertanda demamnya mulai turun. Kini rasa haus yang amat sangat, menyerang tenggorokannya, memaksanya untuk bangkit dari tempat tidur. Dengan langkah yang masih agak gontai, ia membuka pintu kamar. Rambutnya yang panjang tampak berantakan dan mencuat ke mana-mana, wajahnya masih terlihat pucat, serta kaos kebesarannya yang kusut terkena keringat. Ia hanya ingin segera mencapai dapur untuk meneguk air. Namun, baru beberapa langkah keluar dari kamar, tubuhnya tiba-tiba mematung. Langkahnya terhenti seketika saat melihat sosok pria yang tengah duduk tenang di sofa ruang tengah, berbincang dengan ibunya. Di sana, dengan kaos panjang yang lengannya digulung, Hanggara duduk. Nala merasa seluruh aliran darahnya mendadak naik ke wajah. Ia mematung di tempat. Kesadarannya pulih serat
Read more