LOGINNala duduk bersandar pada kepala ranjang, memeluk lututnya erat-erat. Tidak ada lagi isak tangis yang meledak-ledak. Air matanya kini jatuh perlahan, diam-diam, mengalir tanpa suara. Ia seolah sudah kehabisan energi, terlalu lelah bahkan untuk sekadar meraung keras di keheningan malam ini. Tatapannya kosong. Keputusan itu sudah terucap. Hubungannya dengan Hanggara sudah berakhir. Nala tidak pernah membayangkan kisah mereka akan menemui jalan buntu secepat ini. Enam bulan mungkin terdengar singkat bagi sebagian orang, tapi bagi Nala, waktu itu cukup untuk merangkai rencana-rencana kecil yang ia simpan diam-diam di kepalanya. Obrolan santai tentang masa depan, candaan ringan soal bentuk rumah impian, hingga bayangan sederhana tentang Hanggara yang duduk di ruang tamu, berusaha mengobrol akrab dengan keluarganya. Ia memberikan seluruh kunci kepercayaannya kepada seseorang yang ternyata masih menyimpan kunci cadangan untuk masa lalunya. Nala menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang me
Parkiran rumah sakit sore itu terasa begitu menyesakkan, seolah oksigen di sana telah habis terhisap oleh deretan mesin kendaraan yang menderu. Namun, kebisingan lalu lintas di luar gerbang sama sekali tak mampu memecah keheningan yang mencekam di kepala Hanggara. Ia mematung di samping mobilnya, menatap nanar layar ponselnya yang gelap dan dingin, sedingin hatinya saat Nala memutuskan sambungan telepon secara sepihak tadi. Hanggara sudah mencoba menelepon kembali berkali-kali, namun, tidak ada jawaban. Nala benar-benar menutup pintu untuknya. Kalimat yang diucapkan perempuan itu terus bergema, menghujam tepat di pusat rasa bersalahnya. 'Mas tuh udah nggak ada kepentingan apa pun sama dia.' Hanggara menunduk dalam, mengembuskan napas panjang yang terasa berat di dada. Nala benar. Sangat benar. Dan kenyataan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian apa pun. Ia memejamkan mata sesaat, mencoba menata kepingan pikirannya yang porak-poranda sejak pagi. Saat telepon dari Rania m
Nala terdiam. Tangannya yang memegang ponsel perlahan mengencang, jemarinya memutih tanpa ia sadari. Detak jantungnya berubah tak beraturan. Perempuan itu memanggil Hanggara dengan nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Angga. Selama ini, Nala selalu memanggilnya Hanggara atau Gara. Semua orang di desa pun begitu. Tidak pernah sekali pun Nala mendengar ada orang yang memanggilnya sesantai itu. Panggilan itu terdengar sangat akrab. "Saya lagi telepon sebentar, kamu balik aja ke kamar. Takut Ibu kamu bangun dan nyariin, nanti saya nyusul." "Lagi telepon siapa sih? Ibu ya? Aku mau ngobrol dong, udah lama nggak ngobrol sama Ibu." Nala menutup matanya rapat, mencoba meredam detak jantungnya yang berpacu menyakitkan. Suara perempuan itu terdengar jelas. Terlalu jelas untuk dianggap salah dengar. Nada bicaranya ringan, manja, seolah ia sudah sangat terbiasa berada di sekitar Hanggara, bahkan dengan sadar ikut campur dalam percakapan pribadi lelaki itu. "Mas," panggil Nala, menco
Nala sempat mengira, menjalin hubungan dengan laki-laki sedewasa Hanggara akan selalu adem-ayem. Enam bulan belakangan, perhatian Hanggara memang sukses membuatnya merasa menjadi perempuan paling beruntung. Namun hari ini, ketenangan itu terusik. Sosok yang biasa mengisi hari-harinya itu seolah raib ditelan bumi. Pesan yang Nala kirimkan sejak pagi belum menunjukkan tanda-tanda akan dibalas. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak. Sebenarnya Nala mencoba maklum. Ia tahu kesibukan Hanggara tidak main-main, mulai dari mengurus toko, memantau sawah, hingga mengecek peternakan. Tapi, apa sesulit itu meluangkan waktu satu menit saja untuk memberi kabar agar ia tidak dilanda kebingungan seperti ini? Dengan helaan napas panjang, Nala kembali melirik layar ponselnya. Ruang percakapannya dengan Hanggara masih sama seperti pagi tadi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Putus asa, ia menaruh benda pipih itu ke dalam laci meja. Nala memutuskan beranjak, menghampiri ayahnya yang sedang sibuk me
Makan siang berlangsung hangat dan penuh suara. Pak Gunawan mendominasi percakapan dengan cerita-cerita lama tentang toko beras mereka, sesekali melontarkan lelucon yang membuat Nala terkekeh tanpa sungkan. Bu Sulis sibuk menyendokkan lauk ke piring Nala meski Nala sudah berulang kali bilang sudah cukup. Dan Hanggara duduk di sampingnya, makan dengan tenang, sesekali berbicara seperlunya. Tapi Nala sadar, setiap kali gelak tawanya meledak karena ulah Pak Gunawan, Hanggara selalu menoleh sebentar ke arahnya. Ia tidak ikut tertawa, tapi sudut bibirnya selalu bergerak naik. Hanya sedikit. Cukup untuk ditangkap oleh seseorang yang sudah hafal betul ekspresi wajahnya. Dan entah sejak kapan, Nala menjadi salah satu orang itu. "Ayo, Nduk, ke depan. Katanya mau lihat bunga Ibu." Nala pun mengekor di belakang Bu Sulis. Hanggara yang tadinya hendak duduk di ruang tengah bersama ayahnya, memutuskan untuk ikut menyusul. "Anggrek-anggrek ini dibeliin sama Bapak," tunjuk Bu Sulis pada deretan a
Nala mendadak kehilangan kemampuan bicara. Suara wanita itu begitu renyah, kontras dengan bayangan 'calon mertua galak' yang sempat melintas di benaknya. Ia refleks merapikan blusnya yang sebenarnya sudah rapi, lalu menyalami tangan wanita itu dengan takzim. "S-siang, Bu. Saya Nala," ucapnya pelan, hampir tenggelam oleh debar jantungnya sendiri. "Iya, Nala, Ibu udah denger soal kamu dari Gara. Ayo, ayo masuk, Nduk. Kebetulan Ibu udah bikin teh sama gorengan tadi." ujar Ibu Hanggara sambil merangkul bahu Nala, bersikap sangat akrab seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama. Hanggara yang berdiri di belakang hanya bisa menggelengkan kepala melihat ibunya yang begitu bersemangat. Ia menatap punggung Nala dengan tatapan yang dalam, ada rasa lega sekaligus bangga melihat bagaimana Nala dengan mudah mencuri hati ibunya di detik pertama bahkan tanpa melakukan apapun. Nala menoleh cepat, meminta pertolongan lewat tatapannya. Namun, Hanggara justru tersenyum tipis, memberi kode melalui
Pukul sembilan pagi, Nala akhirnya memutuskan untuk menyusul ayahnya ke warung. Persoalannya dengan Banyu sudah dianggap selesai. Meskipun sang kakak benar-benar melahap habis jajanannya, laki-laki itu tetap menepati janji dengan mengirimkan sejumlah uang ke rekening Nala. Karena jumlahnya yang lebi
Sesampainya di rumah, Nala segera memindahkan jajanan pasar yang ia beli tadi ke atas piring, sementara Bu Raras mulai mengeluarkan barang belanjaannya dan menyusunnya di kulkas. Aroma manis dari parutan kelapa dari jajanan yang ia bawa memenuhi dapur, namun pikiran Nala masih tertinggal di lorong p
Pukul lima pagi, suasana desa masih diselimuti kabut tipis yang merayap di atas permukaan sawah. Udara dingin yang menusuk tulang memaksa Nala mengenakan jaket oversized berwarna lilac favoritnya. Bu Raras sudah siap dengan keranjang anyaman bambu di tangan. Mereka berangkat menggunakan motor, menem
Waktu bergulir hingga tak terasa sore telah menyapa. Semburat oranye mulai menghiasi langit. Pukul setengah enam sore, suasana jalanan mulai sepi. Pak Bakti pun mulai merapikan kursi dan memberikan instruksi pada Nala untuk segera pulang. "Ayo beres-beres aja, Nduk, kita tutup," ujar Pak Bakti sambi







