Dinginnya angin malam Istanbul yang bertiup dari arah Laut Marmara mulai menusuk kulit, namun suasana di bar rooftop kawasan Karaköy ini justru terasa hangat. Mahes, Anton, dan Pierre memilih meja di pojok, tempat yang memberikan sudut pandang sempurna ke arah Menara Galata yang berdiri angkuh di kejauhan.Pelayan kafe yang ramah segera menghidangkan pesanan mereka: tiga gelas kecil Ayran, minuman yogurt asin yang menyegarkan dan sepiring besar Lahmacun panas yang aromanya memenuhi udara dengan perpaduan daging domba dan rempah-rempah eksotis."Ini baru hidup," gumam Anton sambil menyesap kopi Turki-nya yang pekat. Ia menatap Mahes yang masih saja sesekali melirik layar ponselnya yang gelap. "Taruh ponselmu, Kapten. Setidaknya untuk satu jam ini, jadilah Mahes, bukan Kapten Jet Pribadi Emma Laurent."Mahes tersenyum kecut, memasukkan ponselnya ke dalam saku mantel. "Sulit, Pak Anton. Kamu tahu sendiri bagaimana rasanya hidup di bawah pengawasan Robert."Pierre, yang tampak jauh lebih c
Read more