Limosin mewah itu meluncur meninggalkan area pura, meninggalkan aroma dupa dan kamboja yang bercampur dengan ketegangan tersembunyi. Di dalam kabin mobil yang sejuk oleh AC, Emma menyandarkan kepalanya di bahu Mahes, sementara tangannya tak berhenti mengusap lengan berotot sang kapten. Namun, di kursi baris kedua, Rose menatap keluar jendela dengan tatapan bosan yang dibuat-buat. Ponselnya bergetar—sebuah pesan singkat dari Pierre: "Melati Beach. Private area number 05. I'm waiting for you with the crashing waves."Rose tersenyum tipis. Ia melirik ibunya yang sedang asyik menandai wilayah pada Mahes. Ini adalah kesempatan emas."Ma," panggil Rose tiba-tiba, suaranya manja namun tegas. "Aku bosan ikut acara makan malam relasi Mama nanti. Aku mau ke beach club Pierre sudah di sana."Emma mengangkat alisnya, tidak melepaskan rangkulannya pada Mahes. "Baiklah, tapi kamu tahu aturannya, Rose. Jangan pulang lewat dan jangan membuat skandal."Emma kemudian menoleh ke arah depan, ke arah spio
Read more