Mahes berdiri di anjungan kapal yang bergoyang pelan, matanya masih terpaku pada layar televisi yang menampilkan wajah sembab Vero. Rasa bersalah menghujam jantungnya, namun di sisinya, aroma parfum Emma yang eksklusif dan sentuhan tangannya yang posesif seolah menjadi jerat yang manis."Setelah sampai di darat nanti, sepertinya tugasku selesai, Nyonya Emma," ujar Mahes dengan suara rendah, mencoba mengetes ombak. "Aku rasa aku harus segera mengurus pengunduran diri. Toh, tidak ada lagi pesawat yang bisa aku kemudikan, kan? Semuanya sudah tertinggal di Pulau Sabana."Emma Laurent seketika menoleh, matanya yang tajam berkilat penuh dominasi. Ia melepaskan cengkeraman di lengan Mahes hanya untuk berpindah menggenggam jemari pria itu dengan erat."Resign? Jangan konyol, Mahes," bantah Emma dengan nada suara yang tidak menerima penolakan. "Kamu pikir jet pribadi itu adalah satu-satunya alasan aku mempekerjakanmu? Jet bisa dibeli lagi dalam hitungan jam, tapi pria yang bisa membawaku selam
Read more